Wednesday, February 16, 2011

Jilbab merupakan simbol spiritual dan lambang kebaikan

Keputusan itu melesat hanya dua hari menjelang Lebaran ta hun lalu. Inez Rindang Ira wady berketetapan mengenakan jilbab. Ia mengaku tak bisa mengungkap apa yang sebenarnya mendorongnya berbuat begitu. Langkahnya berjilbab datang begitu saja. “Tak tahu mengapa, tiba-tiba saya ingin memakai jilbab,” ujarnya.

Ada perasaan yang menyelinap dalam bilik hatinya sejak ia melakukan perubahan dalam berpakaian. Inez yang menyampaikan pengalamannya kepada Republika belum lama ini menuturkan, sejak saat itu, ia merasa nyaman. Perlakuan simpatik ia juga terima beberapa saat setelah berjilbab.

Hal itu ia alami saat akan pergi ke Bandara Changi, Singapura, untuk mudik berlebaran di Jakarta. Menurut Duta Pengembangan Produk Religi dari Tim Koordinasi Pengembangan dan Wirausaha Kreatif, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian ini, saat ia memesan taksi menuju bandara, orangorang yang ada di sekitarnya spontan berucap salam, Assalamualaikum.

Bagi dia, ini merupakan pengalaman baru karena tak pernah terjadi sebelumnya. Pada gilirannya ia check in, petugas menyapanya dengan Assalamualaikum. Di bagian imigrasi, perlakuan simpatik ia tuai. Si petugas, bertanya kepada Inez mengapa wajahnya di paspor berbeda. Ia menjawab perbedaan itu karena baru hari itu pakai jilbab. “Petugas itu memberi selamat kepada saya, padahal dia orang Cina,” tutur perempuan kelahiran Washington DC, 8 Mei 1990 itu. Rasa kaget menyergap kedua orang tua dan sopir keluarganya saat Inez tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Banten. Ibunya tak percaya putri sulungnya mengenakan jilbab. Inez ditanya apakah memang serius dengan keputusannya itu. Sebab, selama ini, ibunya tahu putrinya itu suka lompat ke sana-kemari dan tak jarang mengenakan pakaian mini dan tiba-tiba pulang dengan berbusana lain.

Ada semacam keraguan, bisa saja jilbab dikenakan saat Lebaran saja dan setelah itu ditanggalkan. Dengan tegas, Inez menjawab pertanyaan ibunya, Sri Redjeki, bahwa ia memang sudah bertekad bulat. Pada akhirnya, Inez mengembuskan pengaruh baik, ibunya mengikuti jejaknya.

Lebaran berlalu. Ia harus terbang ke Singapura dan menekuni kembali studinya di Raffles Design Institute, Jurusan Fashion Marketing. Rasa waswas menerpa dirinya. Degup jantungnya begitu cepat selama ia dalam pesawat menuju negeri tersebut. Ia khawatir apakah teman-temannya akan menerimanya dengan kondisinya yang baru.

Maklum, Inez menjadi satu-satunya yang berjilbab dari 60 mahasiswi di kelasnya dan teman-temannya tidak semua dari Indonesia. Kebanyakan dari Cina serta India dan tak ada yang Muslim. Maka, di hari pertama ia masuk kuliah, ia memilih duduk di pojok.
Teman pertama yang melihatnya berjilbab adalah mahasiswi asal Indonesia keturunan Cina.

Begitu melihat Inez, temannya itu langsung mengucapkan, “Allahu Akbar, masya Allah, kesamber apa, lo,” katanya sambil memberondong Inez dengan banyak pertanyaan mengenai keputusannya berjilbab. Hingga akhirnya, sang teman memeluk Inez dengan raut kebahagiaan. “Selamat,” ujarnya.

Keterkejutan tak hanya menimpa teman temannya, dosennya pun dilanda perasaan yang sama. Sebab, selama ini, do sennya melihat Inez sering memakai celana pendek, tetapi tiba-tiba kini mengenakan baju tertutup. Namun, dosen tersebut kemudian menyatakan harapannya semoga Inez bisa selamanya berjilbab. Inez bahagia mendengarnya.

Inez merasakan kekhawatiran yang mendekam dalam dirinya, dibalik oleh Allah SWT dengan hadirnya sikap simpatik dari teman dan dosennya. Yang menarik, teman-temannya yang nonMuslim justru membetulkan letak jilbabnya yang kadang berantakan. Ia mengaku tak tahu mereka belajar dari mana. Namun, ia merasa bahwa dukungan mereka sangat besar walaupun memiliki akidah yang berbeda. Ucapan selamat juga bertebaran di akun jejaring sosialnya, Facebook. Banyak pula yang memberi nasihat agar selalu menjaga sikap. Ia menyatakan akan melakukan perubahan ke arah yang lebih baik secara bertahap.

Inez mempunyai pengalaman menarik dengan jilbabnya. Waktu itu, ada fashion show yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan di mana ia belajar. Kegiatan itu dilangsungkan di sebuah tempat semacam diskotik. Semula ia keberatan, tetapi terus didesak untuk ikut.

Ia menimbang tak mungkin perempuan berjilbab masuk ke tempat semacam itu. Ia juga tak mungkin akan melepaskan jilbabnya hanya untuk masuk ke tempat tersebut. Sebab, ia telah berprinsip saat menjalankan sebuah keputusan maka ia akan terus memegang komitmennya. Akhirnya, ia ikut juga, tetapi jilbab tak lepas dari tubuhnya.

Menurut Inez, kala itu, ia mengenakan jilbab yang seperti siput, bentuknya lucu. Dengan penampilannya, ternyata ia menarik perhatian. Tibatiba juri pergelaran itu menariknya untuk tampil. Tak ada harapan atau keinginan apa pun atas penampilannya itu. Namun, tak disangka ia menyabet gelar, best dress ketiga.

Teman-temannya yang ikut diterpa kebingungan dengan gelar yang diberikan juri untuk dirinya. Namun, juri pun menyampaikan argumentasi atas keputusannya. Menurut juri, pakaian yang dipakai Inez unik. Dengan pertimbangan itulah, Inez berhak mendapatkan gelar ketiga itu.

Dari pengalaman ini, Inez memetik beberapa pelajaran. Ia merasa Allah begitu dekat dan memberikan kemudahan. Melalui kegiatan itu, ia mengangkat citra Indonesia. Selain itu, ia pun berkesimpulan semua orang suka karena jilbab merupakan salah satu simbol spiritual. Itu lambang kebaikan.

Adakah perasan lain dalam kalbunya dengan berjilbab? Inez menegaskan, berjilbab bagai sebuah oase. Di tengah banyaknya anggapan Islam itu keras, dengan melihatnya berjilbab, banyak orang bertanya kepada Inez mengenai pertanyaan yang ringan hingga serius berkaitan dengan Islam.

Di antara pertanyaan yang mengemuka adalah mengapa Muslim tak boleh mengonsumsi daging babi dan apa logikanya mengharamkan daging itu.
Pertanyaan seperti itu membuat Inez terpacu untuk lebih banyak belajar. Ia jadi sering membuka buku untuk menemukan jawaban itu. Tujuannya agar jawaban yang ia sampaikan ada dasarnya.

Nama : Inez Rindang Irawady

Lahir : Washington, DC, 8 Mei 1990

Ayah : Edy Putra Irawady

Ibu : Sri Redjeki

Adik : Linos Gema Irawady Pendidikan

Pendidikan

1. TK Annandale Coop, Virginia

2. SD Niaga Ekasari, Jakarta

3. SMP Bakti Mulya 400, Jakarta

4. SMA Bakti Mulya 400, Jakarta

5. Los Angeles High School, Los Angeles

6. Saat ini kuliah di Raffles Design Institute, Jurusan Fashion Marketing, Singapura

Pengalaman dan prestasi

1. Duta Pengembangan Produk Religi dari Tim Koordinasi Pengembangan dan Wirausaha Kreatif (2011)

2. Pertukaran Budaya di Yeosu Youth International Festival, Korea Selatan (2007)

3. Award for Outstanding Perfomance in English Language dari West Adams Preparatory High School, Los Angeles

0 komentar: